menjadi hakim, atas
benar salahnya polah manusia
langkahku dimulai sekarang.
Sore itu tak berbeda dengan sore
biasanya. Sepulang sekolah, aku menuju tempat bimbingan belajar, dan melewati
sebuah televisi besar yang menyiarkan berita setiap harinya. Aku jarang
memperhatikannya, namun kali ini, berita yang disiarkan menarik perhatianku.
Terlebih, jalan raya ini masih ramai, sehingga aku masih punya cukup waktu
untuk sekedar menontonnya.
"Selanjutnya, polisi sudah
menangkap Naoki Toiuji, 35 tahun, atas tuduhan pembunuhan terhadap teman
sekamarnya, seorang wanita berumur 25 tahun…"
Berita itu belum selesai, dan sekarang
sudah waktunya aku menyeberang jalan. Aku pun menarik nafas saat menyeberang.
Ah, manusia. Semakin hari,
kelakuannya semakin merusak dunia..
Kejadian pembunuhan itu hanya terekam
sepintas lalu di otakku. Sungguh, aku tak lagi punya waktu untuk memikirkan
semua itu. Sekarang saatnya untuk memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa
merubah dunia ini menjadi tempat hidup yang lebih baik, untuk semua makhluk
hidup. Demi kedamaian.
Dan siang ini pun aku kembali
memikirkannya. Ketika teman-teman sekelasku membicarakan tentang hubungan
cintanya yang toh semuanya seumur jagung, atau tentang permainan komputer
terbaru yang baru kemarin mereka beli dari hasil jerih payah orang tuanya. Aku
yakin, dunia akan lebih baik jika orang yang tak serius dan berleha-leha saja
mati tak berbekas.
Kami tak butuh orang seperti
kalian!
Aku menatap jendela sembari menghela
nafas. Guruku yang berbicara di depan tak kuperhatikan lagi, toh mereka hanya
membacakan apa isi buku teks semata, bukan mengajarkan apa yang terkandung di
dalamnya. Bahkan profesi mulia seperti guru pun mulai tercemar, alangkah
menyedihkannya dunia ini!
Sebentar kemudian, aku merasa sedang
berilusi. Aku melihat sebuah buku jatuh dari langit, terbawa angin yang memang
tengah kencang-kencangnya di bulan ini. Buku itu berwarna hitam, dan nampaknya
tipis. Awalnya aku mengira bahwa buku itu terjatuh dari lantai paling atas
sekolah ini, namun sepertinya tak mungkin. Kelasku ada di paling atas, dan
paling pojok. Dan pada jam sekolah, tak mungkin ada siswa yang diam di loteng
sekolah, satu-satunya tingkat diatas kelasku, karena loteng itu terkunci.
Ah, sudahlah. Itu 'kan hanya
sebuah buku bodoh.
Dan saat aku keluar dari kelas, aku
memverifikasi bahwa aku tak sedang berkhayal tadi. Buku hitam yang kukira jatuh
dari langit itu, ada di taman sekolahku. "Death Note", begitu tulisan
yang tertera di sampulnya. Dan seperti yang kuperkirakan, buku itu memang
tipis. Terdorong rasa penasaran, aku membukanya. Jika nanti toh aku menemukan
identitas pemiliknya, aku akan mengembalikannya, atau minimal membawanya ke
kantor polisi.
Dan aku tak peduli apapun itu
isinya. Itu kan urusan si pemilik buku?
Aku membukanya. Buku itu tak
mencantumkan identitas pemiliknya barang sehuruf pun. Dan buku itu kosong.
Namun aku menemukan sesuatu yang membuatku ingin tertawa. Di balik sampul buku
itu, tertulis:
"Death Note
How to Use it:
- The person whose name written in it shall die"
Huh? Orang yang namanya ditulis
di buku ini akan mati? Ah, tak mungkin. Ini hanya surat kaleng biasa!
Aku pun tertawa sinis, kemudian
membawa buku itu ke tempat sampah. Aku membuangnya, kemudian berlalu.
Kelakuan manusia semakin gila
saja dari hari ke hari. Apa mereka tak punya hal lain untuk dikerjakan, selain
membuat buku bodoh seperti itu?
"Kau yakin itu hanya sebuah
lelucon?" tiba-tiba, sebuah suara berat menegurku, sesaat setelah aku
membuang buku itu.
Huh? Suara siapa itu?
Aku menoleh. Aku melihat makhluk
besar, yang beranatomi sama seperti manusia, namun berwujud lebih menyeramkan.
"S-siapa kau?" tanyaku pada
makhluk itu.
"Kenalkan, aku Ryuk. Dewa
Kematian, dan pemilik buku itu. Karena kau sudah menyentuhnya, kau harus
memiliki buku itu" ujar makhluk itu, dengan nada menghakimiku. Tak mau
kalah, aku pun mendebatnya.
"Tidak bisa! Ambil kembali buku
ini, aku tak membutuhkannya!" teriakku.
"Hey, hey, apa kau mau dianggap
gila?" tanya makhluk itu lagi. "Seisi sekolah tengah menatapmu
sekarang, menganggapmu tak waras karena bicara sendiri" ujarnya tenang.
"Aku tak tengah bicara sendiri!
Aku tengah berbicara padamu!" ujarku, menyerang balik.
Makhluk itu pun menghela nafas.
"Tentu saja mereka menyangkamu berbicara sendiri. Yang bisa melihatku
hanyalah orang yang sudah menyentuh Death Note. Jika saja salah satu dari
mereka memungut ini, mereka pun akan mendapat tatapan aneh karena berbicara
namun tak terlihat lawan bicaranya".
"Baiklah. Apa maumu?"
tanyaku, mempersingkat pembicaraan. Semakin lama aku berdebat dengan makhluk
aneh ini, semakin lama pula aku mendapat tatapan aneh dari seisi sekolah.
"Pungutlah buku ini, bawalah pulang,
dan cobalah sendiri. Nanti aku akan datang, melihat hasil pekerjaanmu. Aku
pulang dulu!" kemudian, makhluk itu pun menghilang.
Aku pun memungut buku itu. Entah
mengapa, setelah menemui Ryuk, aku menjadi setengah percaya dengan apa yang
tertulis di buku ini. Meskipun demikian, hatiku masih diselimuti ragu untuk
mencoba kemampuan buku ini, seperti yang diperintahkannya…
Jika aku mencobanya, dan buku ini
berhasil, itu artinya aku akan menjadi pembunuh. Dan dengan begitu, aku akan
menjadi seorang kriminal. Tidak, terima kasih. Meskipun demikian, jika
berhasil, maka buku ini akan menjadi senjataku yang paling berharga untuk
merubah dunia…
Sambil berjalan, aku tetap bimbang.
Aku ingin mencobanya. Aku ingin menggunakan buku ini untuk kebaikan. Tapi aku
tak ingin menjadi kriminal, pun juga tak ingin berharap banyak, jika ternyata
buku ini palsu…
Tak terasa, aku pun tiba di rumah,
dan langsung masuk ke kamar, menyalakan televisi kecilku. Biasanya saat aku
sampai di rumah dan menyalakannya, stasiun televisi satu-satunya yang
tertangkap di kamarku sedang menyiarkan anime atau reality show.
Sebenarnya acara seperti itu tak bermutu, namun daripada tak ada lagi hiburan
yang tersedia, satu atau dua kali menonton acara seperti itu tak ada salahnya
kan? Manusia butuh penyegaran agar otaknya tak terlalu dipenuhi hal-hal tak
jelas.
Namun sore ini, aku terkejut. Stasiun
televisi ini tengah menyiarkan berita. Nampaknya disiarkan langsung dari tempat
kejadian perkara.
Pembunuhan? Penyanderaan? Apa sih
sebenarnya, yang diinginkan manusia zaman sekarang?
"Kurou Otoharada, 42 tahun,
seorang pengangguran yang membunuh dan melukai 6 orang di Shinjuku kemarin
masih terkurung di dalam TK ini, dengan sanderanya, 8 orang siswa TK. Polisi
Metropolis kini sedang bernegosiasi sambil menyelidiki motif…"
Sekarang saatnya membuktikan apa
yang dikatakan Ryuk.
"- This note has no effect
except the writer has the victim's face in their mind
- Therefore, people sharing the same name will not be affected
- If the cause of death is written in 40 seconds after writing a person's name,
it will happen
- But if the cause of death is not specified, they will die simply because of
heart attack
- After writing the cause of death, the details must be written within 6
minutes and 40 seconds"
Kubaca kembali aturan penggunaan buku
ini. Wajah si pelaku penyanderaan tampil di layar televisi. Aku menatapnya.
Kemudian kuambil pena. Mantap kutulis nama sang pengecut ini.
Kurou Otoharada
Menurut aturan ini, 40 detik setelah
aku menuliskan nama seseorang, maka mereka akan menghadapi kematiannya. Kuambil
ponsel, dan kuhitung waktu. Entah mengapa, detik-detik ini terasa lambat.
40 detik. Apa yang terjadi
sekarang?
"Ah, para sandera telah keluar
dengan selamat!" ujar sang reporter. "Dan kami mendapat berita dari
polisi yang masuk ke dalam gedung, bahwa tersangka telah meninggal dunia akibat
serangan jantung…"
Tak mungkin. Ini benar-benar
terjadi. Pasti ini hanya kebetulan semata! Ya, pasti.
"Light, sudah pukul 6:30! Kau
harus pergi ke tempat bimbingan belajar, kan?" tiba-tiba, suara Ibu
membuyarkan konsentrasiku dari layar televisi. Aku pun bangkit, berganti
pakaian dan segera pergi.
Ini hanya kebetulan. Aku harus
mencobanya sekali lagi, untuk memastikan bahwa ini bukan lelucon. Kali ini, aku
harus menulis penyebab kematian orang yang akan menjadi korbanku selanjutnya.
Dan aku pun pergi ke tempat bimbingan
belajar. Situasi di sini pun sama seperti di sekolahku. Para pemuda yang ada
didalamnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, dan bahkan ada yang
memanfaatkan si lemah demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Tapi aku tak boleh membunuh
siapapun disini. Meskipun mereka sebenarnya layak mati, aku tak ingin
dicurigai. Nanti, setelah aku kelur, aku pasti menemukan orang yang tepat.
Aku pun berjalan pulang. Dalam
perjalanan pulang, aku melihat seorang wanita akan diperkosa oleh sekelompok
orang bermotor besar. Aku pun masuk ke minimarket, untuk melihat kejadian itu
dengan leluasa. Jika aku melihatnya dari jalan raya, aku akan dicurigai.
"Onee-san~. Ayo,
bersenang-senang dengan kami!" ujar salah satu dari mereka.
"Hey, Taku, berbagilah dengan
kami!"
"Jangan pedulikan mereka. Aku
Shibuimaru Takuo, tapi aku terkenal sebagai Shibutaku" ujar seseorang
lagi, nampaknya pimpinan mereka.
"Ah, tidak, terima kasih~"
ujar sang wanita, berusaha menolak.
Si pemimpin kemudian memberi komando
pada anak buahnya. "Ia tidak mau!"
"Lucunya!" ujar anak
buahnya.
Aku pun semakin lama semakin tak
tahan. Aku pun membuka sebuah majalah di toko itu, untuk menutupi apa yang
tengah kulakukan.
Shibuimaru Takuo. Kecelakaan lalu
lintas.
Seperti biasa, kubuka ponselku, dan
kuhitung waktu. 40 detik terasa sangat lambat di saat seperti ini.
00:00:37:13
"Taku! Awas!" seorang anak
buah dari mereka mengingatkan sang pemimpin agar tak bermain-main dengan
motornya.
00:00:38:28
Sebuah mobil melintas, dan menghantam
motor si pemimpin tanpa ampun. Sang pemimpin terpental, motornya hancur
seketika.
00:00:40:00
Sang pemimpin kawanan bermotor itu
pun tewas. Darah mengalir dari kepalanya yang bocor.
Tak diragukan lagi, catatan ini
memang benar-benar terbukti!
Aku pun melangkah keluar minimarket
itu dengan tenang. Sebenarnya, aku masih merasa takut. Takut jika kemudian ada
yang menemukan aku-lah penyebab kematian orang-orang tak berguna itu. Takut
jika nantinya aku akan menjadi seorang kriminal.
Tak apa. Mereka toh memang layak
untuk mati, mengapa harus membiarkan mereka hidup?
Tiga Hari Kemudian
"Aku pulang" ujarku pelan.
"Ini, bu, lembaran hasil ujianku"
Ibu membaca lembaran itu, dan
terlihat sangat bahagia. "Kau mendapat peringkat pertama lagi?
Hebat!" ujarnya antusias. "Ada yang kau inginkan sekarang?"
"Tidak ada, bu. Aku akan
melanjutkan belajarku, jadi tolong jangan masuk ke kamarku sementara ini"
ujarku pendek. Ibu pun mengangguk.
Mengapa kau harus bersikap begitu
antusias atas hal yang sudah biasa kudapat? Dan lagipula, aku sudah mendapat
apa yang kuinginkan… Namun demikian, terima kasih, Bu.
"Nampaknya kau menikmati mainan
barumu, ya?" saat aku tiba di kamarku, Ryuk sudah ada disana. Ia kemudian
merebut Death Note, ya, aku sekarang mengakui bahwa buku itu benar-benar
catatan penentu kematian, dariku, kemudian membukanya.
"Hm, aku baru melihat seorang
manusia yang menulis nama sangat banyak hanya dalam jangka waktu sesingkat ini…
Kau luar biasa" ujarnya sinis.
Mendapat reaksi sinis seperti itu,
aku pun merasa sedikit ciut. "Aku siap untuk apapun, Ryuk. Aku tahu, aku
menggunakan buku itu tanpa perhitungan matang. Jika kau mau mengambil nyawaku,
ambillah!"
"Untuk apa?" tanyanya.
"Aku kan sudah pernah mengatakannya. Begitu buku itu jatuh ke dunia
manusia, itu menjadi milik siapapun yang memungutnya. Dalam kasus ini, karena
kau yang memungutnya, jadi kau yang harus memilikinya. Namun aku hanya ingin
mengingatkan satu hal…"
"Apa itu? Ada yang kau inginkan
dariku?" tanyaku pada Ryuk.
Dewa Kematian memang penuh
misteri…
"Bukan itu. Aku hanya ingin
mengingatkan bahwa dimanapun kau berada, kau tak akan merasakan ketenangan. Kau
akan selalu mendapat teror dan ketakutan tak berujung…" ujarnya.
"Aku mengerti. Lalu?"
tanyaku lagi.
"Hey, jangan potong ucapanku!
Selain itu, jika kau mati nanti, akulah yang akan menulis namamu. Dan juga, kau
tak akan pernah bisa melihat Surga ataupun Neraka" ujar Ryuk, menyambung
ucapannya.
"Light!" tepat setelah Ryuk
menyelesaikan ucapannya, aku mendengar ibu mengetuk kamarku.
"Bukalah. Kau lupa bahwa hanya
orang yang sudah menyentuh Death Note yang bisa melihat dan berkomunikasi
denganku?"
Aku membuka pintu. "Ada apa,
bu?"
"Ada apel untukmu. Barangkali
kau lapar? Dan, kamarmu gelap sekali! Matamu bisa rusak nanti!" ujar Ibu.
Aku mengambil apel itu dan menutup
pintu. Selang beberapa detik, aku mendengar suara seseorang tengah mengunyah,
dan menemukan apel dari Ibu telah berkurang.
"Aku baru mengetahui kalau Dewa
Kematian pun makan apel" ujarku sinis.
"Hm, enak sekali!" ujarnya
puas.
"Oh iya, satu hal lagi, mengapa
kau begitu ngotot memaksaku memiliki buku ini?" tanyaku.
"Aku menjatuhkan buku ini, dan
sudah menjadi peraturan bahwa siapapun yang memungut buku ini akan memilikinya.
Jadi wajar kan jika aku memaksamu memiliki buku ini?" ujar Ryuk santai,
sembari mengunyah.
"Lalu mengapa kau jatuhkan buku
ini? Jangan bilang ini tak disengaja. Bila tak disengaja, mengapa kau menulis
cara penggunaannya dengan lengkap?" cecarku.
"Jeli sekali kau. Aku memang sengaja
melakukan itu. Aku bosan tinggal di dunia Dewa Kematian. Di sana, kami hanya
berjudi, dan menulis nama sesuai perintah ketika tinggal di sana tak ada
tantangannya sama sekali…" ujarnya
"Oh" ujarku pendek.
"Dan sekarang giliranku bertanya
padamu. Mengapa kau menulis nama begitu banyak dalam jangka sangat singkat, dan
hanya satu nama yang ditulis lengkap dengan penyebab kematiannya?" tanya
Ryuk. "Hm, apelnya habis!" ujarnya setelah menyelesaikan
pertanyaannya.
"Itulah hal yang terbaik dari
Death Note. Bahkan jika kau tak menulis alasan kematiannya, mereka toh tetap
akan mati karena serangan jantung" ujarku. "Aku membunuh orang-orang
itu karena aku ingin membersihkan dunia"
"Membersihkan dunia?" tanya
Ryuk.
"Dunia ini penuh dengan
kriminal, dan kejahatan. Aku mencoba menggunakan Death Note untuk membunuh
dalang kejahatan yang paling berpengaruh, dan hasilnya, tingkat kejahatan sudah
berkurang sangat drastis. Dengan cara ini, orang paling bodoh pun akan tahu
bahwa seseorang sedang merencanakan pembersihan massal terhadap dunia. Dan aku
ingin mereka tahu bahwa akulah yang melakukannya!" ujarku.
"Maksudku, mengapa kau mau
melakukannya?" Ryuk bertanya lagi, kali ini dengan wajah kebingungan.
"Aku tak mengerti dengan jalan pikiran manusia"
"Singkat saja, karena aku bosan,
dan kini aku sudah mempunyai alat untuk melakukannya!" ujarku sembari
tersenyum sinis. "Dengan ini, aku akan merubah dunia!" ujarku
kembali.
"Sudah kuduga, kebosananku akan
berakhir sampai disini. Dunia manusia itu menarik!" ujar Ryuk sambil tertawa.
"Eh?" aku kebingungan.
"Sudahlah, jangan bingung. Mulai
sekarang, selama Death Note itu ada di tanganmu, aku akan hidup bersamamu.
Ngomong-omong, aku masih ingin apel. Dimana kita bisa mendapatkannya?"
ujar Ryuk lagi.
"JANGAN BERTINGKAH
SEMAUMU!" ujarku. Percuma, ia tak mendengar.
Ah, sudahlah. Yang penting, setelah aku
menemukan fakta bahwa benda ini punya kekuatan yang tak bisa dianggap sepele,
aku menjadi yakin bahwa aku akan dapat merubah dunia, sedikit demi sedikit…